Bismillah
pertama - menundukkan pandangan, dari meluaskan pandangan kepada setiap
yang tercela dan dibenci Allah, dan menghindari setiap yang menyibukkan
hati, berpaling dari dzikir kepada Allah,
Rasululullah Shallallahu alahi wasallam bersabda :
Pandangan (tercela) adalah racun yang meracuni bagian dari racun Iblis la'anahullah, barang
siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Ta'ala, maka Allah
Ta'ala akan memberinya iman yang ia akan menemukan manisnya iman
tersebut di hatinya (sanad shahih dari hadits Abi Hudaifah ra)
Termasuk tercela dan dibenci Allah
diriwayatkan Jabir ra dari Anas ra dari Rasulullah saw beliau bersabda :
lima perkara yang membatalkan (pahala) orang yang berpuasa :
Dusta, menggunjing, adu domba, sumpah palsu dan pandangan syahwat.
Kedua- menjaga lisan dari perkataan igauan/tak karuan, dusta,
menggunjing, adu domba, sumpah, perkataan keji, tak berguna, bertengkar,
dan berpura-pura
Melanggengkan/memperbanyak diam, menyibukkan diri
dengan berdzikir kepada Allah subhanah, dan membaca Al Qur'an, inilah
puasa lisan
Sufyan ra berkata : adapun menggunjing/gosip dapat
merusak puasa, diriwayatkan Basyir ibn Harits ra. Dan Laits ra
meriwayatkan dari Mujahid : dua kerugian yang keduanya merusak puasa;
yaitu menggunjing dan dusta
dari Abi Hurairah, Rasulullah S.a.w
bersabda : " sesungguhnya puasa adalah benteng, maka apabila seseorang
dari kalian berpuasa maka tiada ia dikatai kotor dan dibodohi, dan jika
seseorang hendak membunuhnya atau mencelanya maka hendaknya ia berkata ;
"sesungguhnya aku puasa, sesungguhnya aku puasa"
Sebuah
hadits " ada dua orang yang berpuasa atas janji kepada Rasulullah saw,
mereka bersungguh untuk lapar dan haus di akhir siang hingga hampir
batal puasanya, kemudian mereka berdua menghadap Rasulullah s.a.w
meminta izin untuk berbuka, kemudian Rasulullah mengutus seseorang untuk
memberi mereka sebuah wadah dan beliau bersabda:
"Ucapkan kepada
mereka; muntahkan dalam wadah apa yang kalian makan! Maka salah satu
dari mereka memuntahkan sampai sebagian wadah banyaknya dan keluar darah
dan daging segar, dan wanita yang lainnya memuntahkan dengan isi yang
sama sampai wadah penuh, orang orang pun takjub, beliau saw pun bersabda
:
Inilah dua orang yang berpuasa dari makanan yang dihalalkan oleh
Allah ta'ala, dan berbuka atas apa yang diharamkan oleh Allah ta'ala
atas mereka", salah satu dari mereka teman duduk bagi yang lain, mereka
menjadi penggunjing manusia, maka inilah daging-daging manusia yang
mereka berdua makan"(HR Ahmad dari hadits Ubaid pelayan Rasulullah saw
dengan sanad tidak diketahui)......
Ke-tiga : menjaga pendengaran dari mendengarkan hal-hal yang dibenci,
karena sesungguhnya setiap apa yang haram untuk diucapkan maka haram
pula di dengar, karena itu Allah Ta'ala menyamakan antara pendengar dan
pemakan bangkai, maka Allah Ta'ala berfirman : para pengdengar hal dusta
adalah para pemakan bangkai-dan Allah Azza
wa Jalla berfirman : Andai saja orang-orang shalih dan orang2 alim
tidak mencegah ucapan mereka (manusia), pasti mereka berdosa dan memakan
bangkai, - maka diam terhadap menggunjing adalah haram, Allah Ta'ala
berfirman :Sesungguhnya kalian sekarang seperti mereka (penggunjing)
Dan karena itu Rasulullah saw bersabda : penggunjing dan pendengar adalah dua sekutu dalam dosa
Ke-empat : menjaga sisa anggota badan dari dosa-dosa, seperti tangan,
kaki dan dari sesuatu yang dibenci(makruh2), menjaga perut ketika
berbuka dari makanan2 syubhat.
Maka tiadalah bermakna bagi
puasa dengan menjaga makanan halal kemudian berbuka dengan makanan
haram, misal orang yang berpuasa seperti ini maka semisal orang yang
membangun sebuah gedung kemudian merobohkan sebuah kota
Sesungguhnya makanan halal yang membahayakan adalah karena banyaknya,
bukan karena jenisnya, maka puasa adalah cara menguranginya,
meninggalkan berbanyak adalah obat karena takut membahayakannya
ketika seseorang kembali untuk memperoleh racun maka ia adalah orang bodoh,
Haram adalah racun bagi agama dan halal adalah obat yang
menyedikitkannya adalah manfaat dan memperbanyaknya adalah berbahaya,
menyengaja puasa adalah mengurangi makan,
Rasulullah saw bersabda : Betapa banyak orang yang berpuasa tiada ia peroleh dari puasanya kecuali lapar dan haus,
Dikatakan yang dimaksud : ialah orang yang berbuka dengan makanan
haram, dikatakan pula : orang yang menahan (puasa) dari makanan haram
tetapi berbuka atau berbatal puasanya dengan makan daging manusia sebab
ghibah dan itu haram, dikatakan lagi : adalah orang yang tidak menjaga
seluruh anggota badannya dari dosa
Ke-lima
: seseorang tidak memperbanyak makan makanan halal ketika berbuka,
supaya lambung tidak penuh, maka tiada wadah yang paling dibenci oleh
Allah Ta'ala kecuali perut yang penuh dengan makanan halal, lalu
bagaimana mengambil faidah dari puasa jika memaksa Allah untuk memusuhi
dan syahwat memalingkanya
Jika seseorang yang berpuasa menemukan semua makanan untuk bulan Ramadhan, tiada ia makan pada bulan tersebut seperti pada bulan-bulan biasanya
Sesungguhnya tujuan laparnya puasa adalah mengurangi hawa nafsu agar jiwa kuat untuk taqwa
Dan apabila Anda menolak sejumlah (makanan) dan menunggu panasnya siang
sampai isya' sehingga datanglah keinginan(syahwat) dan kuatnya
kesenangan kemudian Anda makan yang lezat2 dan Anda merasa cukup maka
bertambahlah kelezatannya dan melemahlah kekuatan keinginan (nafsu) dan
keluarlah kerasnya keinginan maka menjadi tenang,
Jika pun Anda
meninggalkan jumlah (makanan) maka ruh dan rahasia puasa adalah
melemahnya kekuatan (hawa nafsu) yang ia menjadi perantara syaithon
untuk kembali pada kejelekan2.
Dan itu tidaklah diperoleh kecuali dengan menyedikitkan (makan)
dan menyedikitkan adalah makan apa yang biasa dimakan setiap malam ketika tidak puasa
Lalu adapun jika mengumpulkan perbekalan yang biasa dimakan di siang
hari dengan yang dimakan di malam hari maka tiadalah bermanfaat puasa
Tetapi sebagian dari tatakrama adalah tidak memperbanyak tidur di siang
hari sehingga merasa lapar dan haus juga merasa melemahnya kekuatan...
sebagian
dari tatakrama adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari sehingga
merasa lapar dan haus juga merasa melemahnya kekuatan dan hatinya
menjadi bersih, hilanglah rasa berat karena lemah, sehingga ringanlah
Tahajudnya. Dan harapannya semoga syaitan tidak bisa mengelilingi
hatinya, dan ia dapat melihat kerajaan langit dan lailatul qadar,
ibaratnya dari malam yang sesuatu
terbuka dalam lail qadr yaitu sebagian kerajaan langit, dan itulah
maksud dalam firman Allah Ta'ala -sesungguhnya kami menurunkan Al Qur'an
pada malam yang mulia- maka barang siapa menjadikan antara hati dan
dadanya suatu tempat kosong untuk makanan maka ia terhalang darinya, dan
barang siapa mengkosongkan perutnya maka itu tidak cukup untuk membuka
"hijab" selagi tidak kosong himmah/keinginannya tidak dari selain Allah
azza wajalla
dan semua itu adalah semua perkara, dan permulaan itu
semja adalah menyedikitkan makan.. dan akan ada tambahan penjelasan
dalam bab makanan2 insyaallah azza wajalla
disarikan dari bab Rahasia puasa dalam Ihya ulumiddin Jilid 1
wallahu a'lam bissawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar