Kamis, 29 Agustus 2013

AKIBAT BELAJAR TANPA GURU (kisah nyata)



Imam Abu Hayyan al-Andalusi: "salah seorang Imam ahli Tafsir, penulis Tafsir al-Bahr al-Muhith" dalam untaian bait-bait syair-nya menuliskan sebagai berikut:

ُّﻦُﻈَﻳ ُﺮْﻤُﻐﻟﺍ ّﻥﺃ َﺐْﺘُﻜﻟﺍ ْﻱِﺪْﻬَﺗ # ﺎَﺧﺃ ٍﻞْﻬَﺟ
ِﻡْﻮُﻠُﻌﻟﺍ ِﻙﺍَﺭْﺩﻹ
ﺎَﻣﻭ ﻱِﺭْﺪَﻳ ُﻝْﻮُﻬَﺠْﻟﺍ ّﻥﺄﺑ ﺎَﻬْﻴﻓ # َﺾِﻣﺍَﻮَﻏ
ِﻢْﻴِﻬَﻔْﻟﺍ َﻞْﻘَﻋ ْﺕَﺮَّﻴَﺣ
ﺍَﺫﺇ َﺖْﻣُﺭ َﻡْﻮُﻠُﻌْﻟﺍ ِﺮْﻴَﻐِﺑ ٍﺦْﻴَﺷ # َﺖْﻠَﻠَﺿ ِﻦَﻋ
ِﻢْﻴِﻘَﺘْﺴُﻤْﻟﺍ ِﻁﺍَﺮّﺼﻟﺍ
ُﻪِﺒَﺘْﺸَﺗَﻭ ُﺭْﻮُﻣﻷﺍ َﻚﻴﻠَﻋ ﻰّﺘَﺣ # َﺮْﻴِﺼَﺗ ّﻞَﺿﺃ
ِﻢْﻴِﻜَﺤْﻟﺍ ﺎَﻣْﻮُﺗ ْﻦِﻣ

Orang lalai mengira bahwa kitab-kitab dapat memberikan petunjuk kepada orang bodoh untuk meraih ilmu…”
Padahal orang bodoh tidak tahu bahwa dalam kitab-kitab tersebut ada banyak pemahaman-pemahaman sulit yang telah membingungkan orang yang pintar”.
Jika engkau menginginkan (meraih) ilmu dengan tanpa guru maka engkau akan sesat dari jalan yang lurus”.

Segala perkara akan menjadi rancu atas dirimu, hingga engkau bisa jadi lebih sesat dari orang yang bernama Tuma al-Hakim”[6].

Tuma al-Hakim adalah seorang yang tidak memiliki guru dalam memahami hadits. Suatu hari ia mendapati hadits shahih, redaksi asli hadits tersebut adalah; “al-Habbah as-Sawda’ Syifa’ Likulli Da’”. Namun Tuma al-Hakim mendapati huruf ba’ pada kata al-habbah dengan dua titik; menjadi ya’, karena kemungkinan salah cetak atau lainnya, maka ia membacanya menjadi al-Hayyah as-Sawda’. Tentu maknanya berubah total, semula makna yang benar adalah “Habbah Sawda’ (jintan hitam) adalah obat dari segala penyakit”, berubah drastis menjadi “Ular hitam adalah obat bagi segala penyakit”. Akhirnya, Tuma al-Hakim mati karena “kebodohannya”, mati terkena bisa ular ganas yang ia anggapnya sebagai obat.

wallohu a'lam

Kamis, 22 Agustus 2013

Tokoh-Tokoh AHLI TAUHID SEJATI Ahlussunnah Wal Jama'ah

Tokoh-Tokoh AHLI TAUHID SEJATI Ahlussunnah Wal Jama'ah Al Asyariyyah Walmaturidiyyah Dari Masa Ke Masa

Sesungguhnya keutamaan, kemuliaan dan keagungan para pengikut adalah menunjukan keagungan orang yang diikutinya. Seluruh ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah adalah pengikut al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, atau pengikut al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi. Dengan demikian tidak disangsikan lagi bahwa kedua Imam ini adalah sebagai penegak tonggak dasar dari berkibarnya bendera Ahlssunnah, yang oleh karenanya kedua Imam ini memiliki keutamaan dan kemuliaan yang sangat agung.

Sebagaimana telah kita sebutkan di atas bahwa Ahlussunnah adalah mayoritas umat Islam. Ini berarti dalam menuliskan tokoh-tokoh Ahlussunnah akan meliputi berbagai sosok agung antar generasi ke generasi dan dari masa ke masa. Melakukan “sensus” terhadap mereka tidak akan cukup dengan hanya menuliskannya dalam satu jilid buku saja, bahkan dalam puluhan jilid sekalipun. Sebagaimana anda lihat sekarang ini berapa banyak karya-karya para ulama terdahulu yang ditulis dalam mengungkapkan biografi ulama Ahlussunnah, termasuk dalam hal ini penulisan biografi yang ditulis menurut komunitas tertentu sesuai disiplin mereka masing-masing, seperti komunitas kaum sufi, komunitas ahli hadists, para ahli tafsir, atau lainnya. Dapat kita pastikan bahwa kebanyakan ulama-ulama yang telah dituliskan biografinya tersebut adalah para pengikut al-Imâm al-Asy’ari.

Senin, 19 Agustus 2013

ZIARAH KE MAKAM WALI ALLAH SWT

Al Arif Billah Al Musnid Habib Umar bin Hafidz Dan Jemaat Wahabi - Salafy

ZIARAH KE MAKAM WALI ALLAH SWT

Ada yang bertanya, “kenapa ziarah maqam Aulia?? sedangkan mereka tiada memberi kuasa apa-apa dan tempat meminta hanya pada Allah...!!!”

Al Arif Billah Al Musnid Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al-Hafidz menjawab :

Benar wahai saudaraku aku juga sama pegangan dengan mu bahwa mereka tiada mempunyai kekuasaan apa-apa. Tetapi sedikit perbedaan aku dengan dirimu, karena aku lebih senang menziarahi mereka krn bagiku mereka tetap hidup dalam membangkitkan jiwa yang mati ini kepada CINTA Allah.

PERBUATAN BARU YANG DILAKUKAN SAHABAT PADA ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW


Perbuatan Baru yang Dilakukan Sahabat pada Zaman Nabi SAW


Ada beberapa kebiasan yang dilakukan para sahabat berdasarkan ijtihad mereka sendiri, dan kebiasaan itu mendapat sambutan baik dari Rasulullah SAW. Bahkan pelakunya diberi kabar gembira akan masuk surga, mendapatkan rida Allah, diangkat derajatnya oleh Allah, atau dibukakan pintu-pintu langit untuknya.

Misalnya, sebagaimana digambarkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, perbuatan sahabat Bilal yang selalu melakukan shalat dua rakaat setelah bersuci. Perbuatan ini disetujui oleh Rasulullah SAW dan pelakunya diberi kabar gembira sebagai orang-­orang yang lebih dahulu masuk surga.

Contoh lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang sahabat Khubaib yang melakukan shalat dua rakaat sebelum beliau dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Kemudian tradisi ini disetujui oleh Rasulullah SAW setahun setelah meninggalnya.

Akibat perseteruan di antara dua buah firqoh

Pada kenyataannya yang kita dapat lihat adalah perseteruan antara firqoh (sekte) Wahabi dan firqoh (sekte) Syiah dan yang terkena getahnya adalah mayoritas kaum muslim yakni kaum muslim yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui para ulama yang sholeh yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari salah satu dari Imam Mazhab yang empat.

Jumat, 09 Agustus 2013

PUASA SYAWAL

PUASA SYAWAL

Daftar Isi:
a. Dalil Disunnahkannya Puasa Sunnah Syawal
b. Niat Puasa Sunnah Syawal Digabung dengan Niat Qadha Puasa Ramadhan
c. Tentang Qadha Puasa Ramadhan

TRADISI TRADISI HARI RAYA YANG DISUNNAHKAN



1. Memakai Baju Bagus
Menjelang hari raya, umat Islam berbondong-bondong pergi ke pasar, membeli baju yang baru, untuk dipakai di hari raya nanti. Hal ini merupakan pengejawantahan dari ajaran Islam yang menganjurkan memakai baju-baju yang bagus dalam hari raya. Imam al-Bukhari menulis satu bab dalam Shahih-nya berjudul bab al-tajammul fi al-‘idain (berhias diri dalam dua hari raya) dengan menyitir hadits berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فَلَبِثَ عُمَرُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَلْبَثَ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجُبَّةِ دِيبَاجٍ فَأَقْبَلَ بِهَا عُمَرُ فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّكَ قُلْتَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ وَأَرْسَلْتَ إِلَيَّ بِهَذِهِ الْجُبَّةِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِيعُهَا أَوْ تُصِيبُ بِهَا حَاجَتَكَ.