BEKAL MENYAMBUT BULAN SYA’BAN
Tak terasa bulan mulia Rajab hampir meninggalkan kita, maka sebentar
lagi kita memasuki bulan Sya’ban, bulannya Rasulullah Saw. Sebagai bekal
menyambut kedatangan bulan Sya’ban yang mulia, tentunya akan menjadi
lebih mulia manakala kita isi dengan kegiatan yang mulia pula. Tidaklah
usah menanggapi cibiran segelintir orang yang mempermasalahkan perihal
amalan-amalan di bulan Sya’ban. Selamat dipelajari, diamalkan dan
dicopas atau dishare ke semua teman. Semoga bermanfaat, Aamiin.
Daftar Isi:
A. Pengertian Bulan Sya’ban
B. Amalan Bulan Sya’ban
C. Keutamaan Bulan Sya’ban
D. Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
E. Cara Berdoa
F. Urutan Amalan yang Dianjurkan untuk Dilakukan di Malam Nishfu Sya’ban
G. Komentar Para Ulama Tentang Malam Nishfu Sya’ban
H. Catatan
I. Kesimpulan
A. Pengertian Sya’ban
Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu
menuju bulan Ramadhan. Siapa yang berupaya membiasakan diri
bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai
kesuksesan di bulan Ramadhan.
Dinamakan Sya’ban, karena pada
bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu
minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata
Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan.
B. Amalan Bulan Sya’ban
Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa harus
diperhatikan oleh kaum muslimin. Dan pada bulan ini juga ada beberapa
amalan yang biasa dilakukan oleh para Salafus Shalih untuk mempersiapkan
dan melatih diri dengan memperbanyak ibadah dalam rangka menyambut
bulan Ramadhan. Diantara amalan tersebut adalah:
1. Puasa
Puasa di bulan sya’ban itu termasuk disunnahkan karena untuk melatih
agar nanti ketika Ramadhan sudah terbiasa dengan puasa. Selain itu bulan
ini juga banyak dilalaikan oleh manusia sebagaimana yang dijelaskan
dalam beberapa hadits. Namun kita tidak perlu mengkhususkan hari
tertentu dari bulan Sya’ban untuk berpuasa karena tidak ada hadits yang
benar secara khusus menentukan hari tertentu untuk puasa. Yang ada
adalah riwayat yang menjelaskan anjuran puasa bulan Sya’ban secara umum.
2. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban
Jumhur ulama berpendapat bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah
hukumnya sunnah baik dengan cara beribadah secara bersama atau
sendiri-sendiri dan kita boleh mengisinya dengan bermacam-macam ibadah
seperti puasa dll. Dan itulah yang dilakukan para ulama dalam
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban.
C. Keutamaan Bulan Sya’ban
Disebutkan dalam beberapa hadits shahih tentang keutamaan bulan Sya’ban
yang sungguh sangat diperhatikan oleh Nabi Muhammad Saw.:
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ra. belaiu berkata: “Rasulullah Saw. biasa
berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun
berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak
pernah sama sekali melihat Rasulullah Saw. berpuasa secara sempurna
sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat
beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
2. Hadits yang
diriwayatkan Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Nasa’i dan Imam Ibnu
Khuzaimah dan beliu katakan hadits ini adalah shahih.
Dari
Usamah bin Zaid Ra. berkata: “Saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya
tidak melihatmu berpuasa di bulan seperti engkau berpuasa di bulan
Sya’ban (karena seringnya), beliau menjawab: “Bulan itu banyak manusia
lalai, yaitu antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal
kepada Rabb semesta alam, dan saya ingin untuk diangkat amalku dalam
keadaan berpuasa.”
3. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim
‘Aisyah Ra. berkata: Nabi Saw. tidak biasa berpuasa pada satu bulan
yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Saw. biasa berpuasa pada
bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Imam Bukhari no. 1970 dan Imam Muslim
no. 1156).
Dalam lafadz Muslim, ‘Aisyah Ra. Mengatakan: “Nabi
Saw. biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja
beliau berbuka.” (HR. Imam Muslim no. 1156).
Dari Riwayat-riwayat tersebut sungguh sangat jelas bahwa Nabi Muhammad Saw. sangat memperhatikan bulan Sya’ban dengan berpuasa.
D. Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Tentang keutamaan Nishfu Sya’ban telah banyak hadits dari Nabi Muhammad Saw. diantaranya adalah:
1. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin
Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shahih.
Dari Sayyidah ‘Aisyah Ra. beliau berkata: “Aku kehilangan Rasulullah
Saw. pada suatu malam. Kemudian aku keluar dan aku menemukannya di
pemakaman Baqi’ al-Gharqad”. Maka beliau bersabda: “Apakah engkau
khawatir Allah dan RasulNya akan menyia-nyiakanmu?” Kemudian aku
berkata: “Tidak wahai Rasulullah, sungguh aku telah mengira engkau telah
mendatangi sebagian isteri-isterimu”, kemudian Rasulullah Saw.
bersabda: “Sesungguhnya Allah menyeru hambanya di malam Nishfu Sya’ban
kemudian mengampuni hambanya melebihi banyaknya bulu domba Bani Kilab
(sangat banyak).” (HR. Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin
Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shahih). Telah
diketahui bahwasannya domba Bani Kilab adalah gerombolan domba terbanyak
di Jazirah Arab di waktu itu.
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi
Dari Ali bin Abu Thalib Ra. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda:
“Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya, dan
puasalah di siang harinya, karena Allah menyeru hambanya di saat
tenggelamnya matahari, lalu berfirman: “Adakah yang meminta ampun
kepadaKu, Aku akan mengampuninya. Adakah yang meminta rizki kepadaKu,
Aku akan memberinya rizki. Adakah yang sakit, Aku akan menyembuhkannya.
Adakah yang demikian…. Adakah yang demikian…. Sampai terbit fajar.”
3. Hadits yang diriwayatkan Imam Abu Nu’aim dan dikatakan shahih oleh
Imam Ibnu Hibban, begitu juga Imam Thabrani berkata semua perawinya
adalah orang yang dapat dipercaya (tsiqat)
Rasulullah Saw.
bersabda: “Alloh tabaraka wata’ala melihat kepada maklukNya pada malam
Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhlukNya kecuali orang
musyrik dan orang yang bermusuhan.”
Ini adalah beberapa riwayat tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban.
E. Cara Berdoa
1. Bisa dengan langsung memohon kepada Allah Swt.
2. Bisa dengan bertawassul denga amal-amal sholih sesuai kisah yang
diceritakan Nabi Muhammad Saw. berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari
dan Imam Muslim. Imam Bukhari meriwayatkan tentang tiga orang yang
terperangkap di dalam gua, kemudian mereka memohon kepada Allah dengan
bertawassul dengan amal-amal shaleh mereka yang akhirnya dikabulkan
hajat mereka. Maksudnya mereka memohon kepada Allah agar pintu gua
dibuka dengan membawa sesuatu yang dicintai oleh Allah yaitu amal
shaleh.
Dari Abu Abdurrahman, yaitu Abdullah bin Umar bin
al-Khaththab Ra. beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah Saw.
bersabda: “Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu mereka
berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna
bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu
besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata
bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu
besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah ta'ala
dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.
Seorang dari
mereka berkata: "Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah
tua-renta serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum
kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba
sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu (yang
dimaksud adalah daun-daunan untuk makanan ternak). Saya belum lagi
pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya
pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui
telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan
minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba
sahaya.
Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun
mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya,
sehingga fajarpun menyingsing, Anak-anak kecil menangis karena kelaparan
dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah
keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya
mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan
keridhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi dari
batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit,
tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.
Yang lain
berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai sepupu wanita yang
merupakan manusia yang paling aku cintai (dalam sebuah riwayat
disebutkan: “Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang
amat sangat kepada wanita”) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi
ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi
kesukaran. Iapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua
puluh dinar padanya dengan syarat ia mau menyendiri denganku. Ia pun
berjanji.
Setelah aku dapat menguasai dirinya (dalam sebuah
riwayat lain disebutkan: “Setelah saya dapat duduk di antara kedua
kakinya”) sepupuku itu lalu berkata: "Takutlah engkau pada Allah dan
jangan membuka cincin (maksudnya ialah jangan melenyapkan kehormatanku
ini), melainkan dengan haknya (yakni dengan perkawinan yang sah), lalu
saya pun meninggalkannya padahal ia adalah orang yang amat tercinta
bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan
dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan
niat untuk mengharapkan ridhaMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang
kami hadapi ini." Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja
mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.
Orang yang
ketiga lalu berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan
semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki.
Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu aku kembangkan
sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada
suatu hari ia mendatangiku, kemudian berkata: “Hai hamba Allah,
tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Akupun berkata: “Semua yang
engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa
unta, lembu, kambing dan juga hamba sahaya.” Ia berkata: “Hai hamba
Allah, janganlah engkau memperolokku.” Aku menjawab: “Aku tidak
memperolokmu”.
Kemudian orang itu pun mengambil semua yang
dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya
Allah, jikalau aku mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat
mengharapkan ridhaMu, maka lapangkanlah kami dari kesukaran yang sedang
kami hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar
dari gua itu. (HR. Muttafaq 'alaih).
Inilah yang banyak
diamalkan oleh kaum Muslimin yaitu dengan membaca ayat suci al-Qur’an
(seperti surat Yasin, Tabarak dll), sholat dan berdzikir yang semua itu
adalah amal shalih kemudian setelah itu memohon kepada Allah Swt.
3. Dengan mendahulukan istighfar sebanyak-banyaknya sebagai pelaksanaan
firman Allah Swt.: “Kemudian Aku berkata: “Mintalah ampun kalian kepada
Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia maha pengampun, Dia menurunkan hujan
dari langit untuk kalian, dan memanjangkan usia kalian dengan memberi
berbagai macam harta dan anak serta menjadikan kebun-kebun dan
sungai-sungai untuk kalian.” (QS. Nuh ayat 10-12).
Dan masih
banyak cara-cara berdoa seperti yang sering dilakukan oleh para
Masyayikh dengan istilah istighotsah yang intinya kembali kepada satu
makna yaitu: “Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan ibadah-ibadah
yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.”
F. Urutan Amalan yang Dianjurkan untuk Dilakukan di Malam Nishfu Sya’ban
1) Memperbanyak shalat sunnah diantaranya:
a. Shalat Hajat 2 rakaat, niatnya adalah: “Ushallii sunnatan liqadhaail
haajati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.” (Aku berniat shalat Hajat dua
rakaat karena Allah ta`ala)
b. Shalat Istikharah 2 rakaat,
niatnya adalah: “Ushallii sunnatal istikhaarati rak’ataini lillaahi
ta’aalaa.” (Aku berniat sholat Istikhoroh dua rakaat karena Allah
ta`ala)
c. Shalat Witir 3 rakaat dengan 2 salam. Sholat witir
ini dianjurkan dikerjakan sebagai penutup shalat sunnah. Salam yang
pertama dengan dua rakaat niatnya: “Ushallii sunnatan minal witri
rak’ataini lillaahi ta’aalaa.” (Aku berniat sholat witir dua rakaat
karena Allah ta`ala). Salam yang kedua dengan satu rakaat niatnya
adalah: “Ushallii sunnatal witri rak’atan lillaahi ta’aalaa/Ushallii
rak’atal witri lillaahi ta’aalaa.” (Aku berniat sholat witir satu rakaat
karena Allah ta`ala).
d. Shalat Tasbih. Shalat Tasbih adalah
shalat yang diajarkan Rasululah Saw. kepada paman beliau Sayyidina Abbas
Ra., agar mendapatkan pengampunan dari Allah Swt. Sholat Tasbih ini
dilakukan 4 rokaat dengan 300 kali tasbih dan bisa dilakukan dengan dua
rakaat-dua rakaat (dua salam).
Caranya; Pertama membaca niat:
“Ushallii sunnatat tasbiihi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”. Sholat ini
dilakukan sebagaimana sholat biasa hanya ditambahkan bacaan tasbih
“Subhaanallahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illaallaahu wallaahu
akbar”, dengan perincian:
a) 15 kali sebelum membaca al-Fatihah.
b) 10 kali setelah membaca surat sebelum rukuk.
c) 10 kali di saat rukuk.
d) 10 kali di saat i’tidal.
e) 10 kali di saat sujud yang pertama.
f) 10 kali di saat duduk di antara dua sujud.
g) 10 kali di saat sujud yang kedua.
Maka genaplah 75 tasbih dalam 1 rakaat, 150 tasbih dalam 2 rakaat dan
300 tasbih dalam 4 raka'at. Shalat ini hendaknya dilakukan setiap malam,
kalau tidak bisa setiap minggu, kalau tidak bisa setiap bulan, kalau
tidak bisa setiap tahun, kalau tidak bisa jangan sampai tidak
melakukannya sepanjang umurnya.
Keterangan: Untuk pembacaan
tasbih yang 15 kali sebelum membaca al-Fatihah, bisa ditiadakan dan
dipindah setelah sujud kedua, sebelum berdiri atau sebelum tasyahud.
2) Memperbanyak membaca istighfar.
3) Memperbanyak membaca shalawat.
4) Memperbanyak membaca al-Quran.
5) Memperbanyak membaca dzikir.
6) Memperbanyak berdoa dengan doa apa saja.
7) Bersedekah baik dalam bentuk uang, sandang dan pangan ataupun makanan yang siap dihidangkan
8) Sillaturrahim.
G. Komentar Para Ulama Tentang Malam Nishfu Sya’ban
Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali berkata dalam kitabnya Lathaif
al-Ma’arif halaman 199-201: “Adapun para tabi’in di negara Syam seperti
Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya mereka
mengagungkan malam Nishfu Sya’ban dan mereka bersungguh-sungguh
beribadah di dalamnya dan dari merekalah umat islam mengambil (faham)
keutamaannya dan pengagungannya. Ulama Syam berbeda pendapat dalam
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban:
1. Disunnahkan
menghidupkannya secara berjamaah di masjid dan ulama yang disebutkan
tadi memakai paling bagus-bagusnya pakaian yang mereka miliki dan mereka
membakar kayu harum (gaharu/menyan) dan bercelak dan mereka shalat di
masjid pada malam itu. Dan pendapat ini disetujui oleh Ishaq ibnu
Rohawih dan beliau berkata: ”Ini bukanlah sebuah bid’ah.”
2.
Dimakruhkan berkumpul dalam masjid di malam bulan Sya’ban untuk
melakukan shalat dan bercerita serta berdoa dan tidak dimakruhkan
apabila shalat sendiri. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Auza’i,
imamnya ahli Syam dan ahli fiqihnya dan telah sampai pada kita bahwa
imam Syafi’i berkata: “Sesungguhnya doa tidak akan ditolak dalam 5
malam; malam Jum’at, 2 malam hari raya, awal Rajab dan malam Nishfu
Sya’ban.”
Ibnu Rajab menegaskan kembali dalam kitab yang sama
halaman 200: “Adapun puasa pada hari Nishfu Sya’ban tidak dilarang
karena pada saat itu termasuk Ayyamul Bidh (hari putih 13,14, 15) yang
disunnahkan untuk berpuasa setiap bulan.
Al-Hafidz adz-Dzahabi
berkata dalam kitabnya Tadzkirat al-Huffadz juz 4 hal 1328 dalam
biografi al-Hafidz Ibnu Asakir yang mempunyai karangan-karangan yang
sangat banyak bahwa putera Ibnu Asakir, al-Muhaddits Bahauddin al-Qasim
berkata: “Ayahku (Ibnu Asakir) selalu berjamaah serta membaca al-Quran
dan khatam setiap Jum’at dan setiap hari di bulan Ramadhan dan selalu
beri’tikaf di menara Asyarqiyah di Damaskus. Beliau selalu memperbanyak
sholat sunnah dan dzikir serta menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan
malam ‘Ied dengan shalat dan dzikir.”
Imam Ibnu Haj berkata
dalam kitabnya al-Madkhal juz 1 halaman 257 dalam mengomentari malam
Nishfu Sya’ban kesimpulannya: “Malam Nishfu Sya’ban meskipun bukan malam
Lailatul Qodar ia mempunyai keutamaan yang sangat agung dan kebaikan
yang sangat banyak. Ulama salaf pun mengagungkannya serta
bersungguh-sungguh dalam memasukinya. Dan malam ini (Nishfu Sya’ban)
tidak datang kepada mereka kecuali mereka sangat merindukannya serta
menghomatinya sebagaimana telah diketahui bahwa mereka adalah orang yang
amat mengagungkan syiar-syiar islam. Jadi disunnahkan
bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam Nishfu Sya’ban dengan
cara-cara yang berbeda dari mereka.”
Ibnu Taimiyah (Ia adalah
tokoh yang menjadi kebanggaan orang-orang yang mengingkari kegiatan di
malam Nishfu Sya’ban) berfatwa dalam kitabnya Majmu’ Fatawa juz 23
halaman 131: “Apabila ada orang shalat di malam Nishfu Sya’ban dengan
sendirian atau berjamaah sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum
muslimin itu merupakan hal yang baik. Adapun keutamaan malam Nishfu
Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits dan atsar (perkataan para
sahabat dan tabi’in) dan sejumlah dari ulama salaf menghidupkannya
dengan shalat. Adapun shalatnya seseorang dengan sendirinya pada malam
Nishfu Sya’ban telah didahului (dilakukan) oleh ulama salaf dan dengan
hujjah-hujjah (dalil-dalil) maka hal ini tidak boleh diingkari. Adapun
sholat berjamaah didasarkan atas qaidah umum anjuran berkumpul dalam
melakukan ketaatan dan ibadah.”
Ibnu Taimiyah juga menegaskan
dalam kitabnya Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim halaman 266: “Malam
Nishfu Sya’ban keutamaannya telah diriwayatkan dari banyak hadits-hadits
marfu’ dan atsar (perkataan sahabat dan tabi’in) yang kesimpulannya,
malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang diutamakan.”
Dan
sebagian ulama salaf ada yang mengkhususkannya dengan melakukan ibadah
shalat. Dan berpuasa di bulan Sya’ban telah diriwayatkan dari
hadits-hadits yang shahih. Ada sebagian ulama salaf dari penduduk kota
Madinah juga sebagian ulama khalaf yang mengingkarinya dan berusaha
mencederai hadits-hadits yang menunjukan keutaamannya seperti hadits:
“Sesungguhnya Allah mengampuni di malam Nishfu Sya’ban terhadap dosa yang lebih banyak dari bulu kambingnya Bani Kilb”.
Dan mereka berkata tidak ada perbedaan di antara bulan Sya’ban dan
lainnya. Akan tetapi kebanyakan ulama-ulama salaf mengutamakan
(menghidupkan) bulan Sya’ban sebagaimana nash yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad karena banyaknya hadits-hadits yang meriwayatkan keutamannya
serta perkataan-perkataan dari ulama salaf dan sebagian keutamannya
diriwayatkan di kitab musnad-musnad dan sunan-sunan. Meskipun memang ada
beberapa riwayat yang lain yang dipalsukan.
Setelah disebutkan
sebagian kecil dari ulama-ulama yang menyeru untuk menghidupkan malam
Nishfu Sya’ban maka jika ada orang di akhir zaman ini yang dengan
lantang berkata bahwa ulama terdahulu tidak pernah menghimbau dan tidak
pernah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan ini adalah bid’ah, maka
orang tersebut adalah salah satu dari dua.
Pertama, dia adalah
orang yang tidak mengetahui para ulama salaf, jika demikian orang
tersebut tidak perlu diikuti karena sempitnya wawasan tentang ulama
salaf. Dia telah kurang ajar kepada ulama terdahulu.
Kedua, ia
mengetahui apa yang telah disebutkan di atas hanya karena kecurangan
mereka, maka mereka sembunyikan kebenaran ini karena menuruti hawa
nafsunya dan orang ini pun tidak perlu untuk diikuti. Dan bagi kita
adalah “Mengikuti ulama-ulama yang menghimbau dan menghidupkan malam
Nishfu Sya’ban.
Cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah
dengan memperbanyak amal-amal yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.
seperti melakukan shalat sunnah Hajat, Tasbih, Witir atau dengan
bershalawat, berdzikir, beristighfar dan membaca al-Quran atau membaca
ilmu yang menjadikan kita semakin dekat kepada Allah Swt.
H. Catatan
Amanat bagi siapapun di dalam menyampaikan kebenaran karena ada
ancamannya di hadapan Allah Swt. bagi para pengkhianat. Ada sebagian
kaum muslimin yang mendustakan semua hadits-hadits yang berkenaan dengan
keutamaan bulan Sya’ban dan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, sungguh
ia telah berdusta kepada Nabi Muhammad Saw.
Dan memang ada
beberapa riwayat palsu tentang keutamaan menghidupkan malam Nishfu
Sya’ban. Akan tetapi bagi orang yang takut kepada Allah Swt. haruslah
jujur, yang palsu harus dibuang akan tetapi jika ada riwayat telah
dianggap benar (shahih) oleh ahli hadits tidak ada bagi kita kecuali
menginshafi dan menerimanya.
Bahkan jika seandainya tidak ada
riwayat yang benar dan hanya ada yang dha’if hal tersebut oleh para
ulama masih bisa digunakan untuk memacu amal baik, dengan
syarat-syaratnya. Apalagi sudah terbukti ada sebagian ahli hadits yang
menghukumi keshahihannya.
I. Kesimpulan
1. Dari
keterangan hadits-hadits tersebut di atas maka telah jelas bahwa Allah
mengampuni hamba-hambaNya dengan pengampunan yang khusus di malam Nishfu
Sya’ban.
2. Allah Swt. menyeru kepada hamba-hambaNya untuk
meminta ampun, meminta rizki, dan agar dijauhkan dari malapetaka dan
bencana. Ini semua terjadi di malam Nishfu Sya’ban. Maka sungguh sangat
dianjurkan agar kita memperbanyak istighfar dan memohon kepada Allah
Swt. dengan berbagai cara sesuai yang disyariatkan oleh Rasulullah Saw.
Wallahu A’lam Bishshawab
https://www.facebook.com/syaroni.assamfury/posts/563856750331905
Tidak ada komentar:
Posting Komentar