Senin, 24 Juni 2013

BEKAL MENYAMBUT BULAN SYA’BAN



Tak terasa bulan mulia Rajab hampir meninggalkan kita, maka sebentar lagi kita memasuki bulan Sya’ban, bulannya Rasulullah Saw. Sebagai bekal menyambut kedatangan bulan Sya’ban yang mulia, tentunya akan menjadi lebih mulia manakala kita isi dengan kegiatan yang mulia pula. Tidaklah usah menanggapi cibiran segelintir orang yang mempermasalahkan perihal amalan-amalan di bulan Sya’ban. Selamat dipelajari, diamalkan dan dicopas atau dishare ke semua teman. Semoga bermanfaat, Aamiin.

Daftar Isi:

A. Pengertian Bulan Sya’ban
B. Amalan Bulan Sya’ban
C. Keutamaan Bulan Sya’ban
D. Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
E. Cara Berdoa
F. Urutan Amalan yang Dianjurkan untuk Dilakukan di Malam Nishfu Sya’ban
G. Komentar Para Ulama Tentang Malam Nishfu Sya’ban
H. Catatan
I. Kesimpulan

A. Pengertian Sya’ban

Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadhan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.

Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan.

B. Amalan Bulan Sya’ban

Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa harus diperhatikan oleh kaum muslimin. Dan pada bulan ini juga ada beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh para Salafus Shalih untuk mempersiapkan dan melatih diri dengan memperbanyak ibadah dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Diantara amalan tersebut adalah:

1. Puasa

Puasa di bulan sya’ban itu termasuk disunnahkan karena untuk melatih agar nanti ketika Ramadhan sudah terbiasa dengan puasa. Selain itu bulan ini juga banyak dilalaikan oleh manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Namun kita tidak perlu mengkhususkan hari tertentu dari bulan Sya’ban untuk berpuasa karena tidak ada hadits yang benar secara khusus menentukan hari tertentu untuk puasa. Yang ada adalah riwayat yang menjelaskan anjuran puasa bulan Sya’ban secara umum.

2. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban

Jumhur ulama berpendapat bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah hukumnya sunnah baik dengan cara beribadah secara bersama atau sendiri-sendiri dan kita boleh mengisinya dengan bermacam-macam ibadah seperti puasa dll. Dan itulah yang dilakukan para ulama dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban.

C. Keutamaan Bulan Sya’ban

Disebutkan dalam beberapa hadits shahih tentang keutamaan bulan Sya’ban yang sungguh sangat diperhatikan oleh Nabi Muhammad Saw.:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ra. belaiu berkata: “Rasulullah Saw. biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Saw. berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

2. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Khuzaimah dan beliu katakan hadits ini adalah shahih.

Dari Usamah bin Zaid Ra. berkata: “Saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya tidak melihatmu berpuasa di bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban (karena seringnya), beliau menjawab: “Bulan itu banyak manusia lalai, yaitu antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan saya ingin untuk diangkat amalku dalam keadaan berpuasa.”

3. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim

‘Aisyah Ra. berkata: Nabi Saw. tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Saw. biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Imam Bukhari no. 1970 dan Imam Muslim no. 1156).

Dalam lafadz Muslim, ‘Aisyah Ra. Mengatakan: “Nabi Saw. biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja beliau berbuka.” (HR. Imam Muslim no. 1156).

Dari Riwayat-riwayat tersebut sungguh sangat jelas bahwa Nabi Muhammad Saw. sangat memperhatikan bulan Sya’ban dengan berpuasa.

D. Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Tentang keutamaan Nishfu Sya’ban telah banyak hadits dari Nabi Muhammad Saw. diantaranya adalah:

1. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shahih.

Dari Sayyidah ‘Aisyah Ra. beliau berkata: “Aku kehilangan Rasulullah Saw. pada suatu malam. Kemudian aku keluar dan aku menemukannya di pemakaman Baqi’ al-Gharqad”. Maka beliau bersabda: “Apakah engkau khawatir Allah dan RasulNya akan menyia-nyiakanmu?” Kemudian aku berkata: “Tidak wahai Rasulullah, sungguh aku telah mengira engkau telah mendatangi sebagian isteri-isterimu”, kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah menyeru hambanya di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni hambanya melebihi banyaknya bulu domba Bani Kilab (sangat banyak).” (HR. Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shahih). Telah diketahui bahwasannya domba Bani Kilab adalah gerombolan domba terbanyak di Jazirah Arab di waktu itu.

2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi

Dari Ali bin Abu Thalib Ra. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya, dan puasalah di siang harinya, karena Allah menyeru hambanya di saat tenggelamnya matahari, lalu berfirman: “Adakah yang meminta ampun kepadaKu, Aku akan mengampuninya. Adakah yang meminta rizki kepadaKu, Aku akan memberinya rizki. Adakah yang sakit, Aku akan menyembuhkannya. Adakah yang demikian…. Adakah yang demikian…. Sampai terbit fajar.”

3. Hadits yang diriwayatkan Imam Abu Nu’aim dan dikatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban, begitu juga Imam Thabrani berkata semua perawinya adalah orang yang dapat dipercaya (tsiqat)

Rasulullah Saw. bersabda: “Alloh tabaraka wata’ala melihat kepada maklukNya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhlukNya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Ini adalah beberapa riwayat tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban.

E. Cara Berdoa

1. Bisa dengan langsung memohon kepada Allah Swt.

2. Bisa dengan bertawassul denga amal-amal sholih sesuai kisah yang diceritakan Nabi Muhammad Saw. berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Imam Bukhari meriwayatkan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, kemudian mereka memohon kepada Allah dengan bertawassul dengan amal-amal shaleh mereka yang akhirnya dikabulkan hajat mereka. Maksudnya mereka memohon kepada Allah agar pintu gua dibuka dengan membawa sesuatu yang dicintai oleh Allah yaitu amal shaleh.

Dari Abu Abdurrahman, yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab Ra. beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu mereka berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah ta'ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.

Seorang dari mereka berkata: "Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-renta serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu (yang dimaksud adalah daun-daunan untuk makanan ternak). Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya.

Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsing, Anak-anak kecil menangis karena kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.

Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai sepupu wanita yang merupakan manusia yang paling aku cintai (dalam sebuah riwayat disebutkan: “Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita”) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi kesukaran. Iapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia mau menyendiri denganku. Ia pun berjanji.

Setelah aku dapat menguasai dirinya (dalam sebuah riwayat lain disebutkan: “Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya”) sepupuku itu lalu berkata: "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin (maksudnya ialah jangan melenyapkan kehormatanku ini), melainkan dengan haknya (yakni dengan perkawinan yang sah), lalu saya pun meninggalkannya padahal ia adalah orang yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan ridhaMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kami hadapi ini." Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.

Orang yang ketiga lalu berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu aku kembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangiku, kemudian berkata: “Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Akupun berkata: “Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu, kambing dan juga hamba sahaya.” Ia berkata: “Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolokku.” Aku menjawab: “Aku tidak memperolokmu”.

Kemudian orang itu pun mengambil semua yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan ridhaMu, maka lapangkanlah kami dari kesukaran yang sedang kami hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (HR. Muttafaq 'alaih).

Inilah yang banyak diamalkan oleh kaum Muslimin yaitu dengan membaca ayat suci al-Qur’an (seperti surat Yasin, Tabarak dll), sholat dan berdzikir yang semua itu adalah amal shalih kemudian setelah itu memohon kepada Allah Swt.

3. Dengan mendahulukan istighfar sebanyak-banyaknya sebagai pelaksanaan firman Allah Swt.: “Kemudian Aku berkata: “Mintalah ampun kalian kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia maha pengampun, Dia menurunkan hujan dari langit untuk kalian, dan memanjangkan usia kalian dengan memberi berbagai macam harta dan anak serta menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian.” (QS. Nuh ayat 10-12).

Dan masih banyak cara-cara berdoa seperti yang sering dilakukan oleh para Masyayikh dengan istilah istighotsah yang intinya kembali kepada satu makna yaitu: “Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan ibadah-ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.”

F. Urutan Amalan yang Dianjurkan untuk Dilakukan di Malam Nishfu Sya’ban

1) Memperbanyak shalat sunnah diantaranya:

a. Shalat Hajat 2 rakaat, niatnya adalah: “Ushallii sunnatan liqadhaail haajati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.” (Aku berniat shalat Hajat dua rakaat karena Allah ta`ala)

b. Shalat Istikharah 2 rakaat, niatnya adalah: “Ushallii sunnatal istikhaarati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.” (Aku berniat sholat Istikhoroh dua rakaat karena Allah ta`ala)

c. Shalat Witir 3 rakaat dengan 2 salam. Sholat witir ini dianjurkan dikerjakan sebagai penutup shalat sunnah. Salam yang pertama dengan dua rakaat niatnya: “Ushallii sunnatan minal witri rak’ataini lillaahi ta’aalaa.” (Aku berniat sholat witir dua rakaat karena Allah ta`ala). Salam yang kedua dengan satu rakaat niatnya adalah: “Ushallii sunnatal witri rak’atan lillaahi ta’aalaa/Ushallii rak’atal witri lillaahi ta’aalaa.” (Aku berniat sholat witir satu rakaat karena Allah ta`ala).

d. Shalat Tasbih. Shalat Tasbih adalah shalat yang diajarkan Rasululah Saw. kepada paman beliau Sayyidina Abbas Ra., agar mendapatkan pengampunan dari Allah Swt. Sholat Tasbih ini dilakukan 4 rokaat dengan 300 kali tasbih dan bisa dilakukan dengan dua rakaat-dua rakaat (dua salam).

Caranya; Pertama membaca niat: “Ushallii sunnatat tasbiihi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”. Sholat ini dilakukan sebagaimana sholat biasa hanya ditambahkan bacaan tasbih “Subhaanallahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illaallaahu wallaahu akbar”, dengan perincian:

a) 15 kali sebelum membaca al-Fatihah.
b) 10 kali setelah membaca surat sebelum rukuk.
c) 10 kali di saat rukuk.
d) 10 kali di saat i’tidal.
e) 10 kali di saat sujud yang pertama.
f) 10 kali di saat duduk di antara dua sujud.
g) 10 kali di saat sujud yang kedua.

Maka genaplah 75 tasbih dalam 1 rakaat, 150 tasbih dalam 2 rakaat dan 300 tasbih dalam 4 raka'at. Shalat ini hendaknya dilakukan setiap malam, kalau tidak bisa setiap minggu, kalau tidak bisa setiap bulan, kalau tidak bisa setiap tahun, kalau tidak bisa jangan sampai tidak melakukannya sepanjang umurnya.

Keterangan: Untuk pembacaan tasbih yang 15 kali sebelum membaca al-Fatihah, bisa ditiadakan dan dipindah setelah sujud kedua, sebelum berdiri atau sebelum tasyahud.

2) Memperbanyak membaca istighfar.
3) Memperbanyak membaca shalawat.
4) Memperbanyak membaca al-Quran.
5) Memperbanyak membaca dzikir.
6) Memperbanyak berdoa dengan doa apa saja.
7) Bersedekah baik dalam bentuk uang, sandang dan pangan ataupun makanan yang siap dihidangkan
8) Sillaturrahim.

G. Komentar Para Ulama Tentang Malam Nishfu Sya’ban

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali berkata dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif halaman 199-201: “Adapun para tabi’in di negara Syam seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya mereka mengagungkan malam Nishfu Sya’ban dan mereka bersungguh-sungguh beribadah di dalamnya dan dari merekalah umat islam mengambil (faham) keutamaannya dan pengagungannya. Ulama Syam berbeda pendapat dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban:

1. Disunnahkan menghidupkannya secara berjamaah di masjid dan ulama yang disebutkan tadi memakai paling bagus-bagusnya pakaian yang mereka miliki dan mereka membakar kayu harum (gaharu/menyan) dan bercelak dan mereka shalat di masjid pada malam itu. Dan pendapat ini disetujui oleh Ishaq ibnu Rohawih dan beliau berkata: ”Ini bukanlah sebuah bid’ah.”

2. Dimakruhkan berkumpul dalam masjid di malam bulan Sya’ban untuk melakukan shalat dan bercerita serta berdoa dan tidak dimakruhkan apabila shalat sendiri. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Auza’i, imamnya ahli Syam dan ahli fiqihnya dan telah sampai pada kita bahwa imam Syafi’i berkata: “Sesungguhnya doa tidak akan ditolak dalam 5 malam; malam Jum’at, 2 malam hari raya, awal Rajab dan malam Nishfu Sya’ban.”

Ibnu Rajab menegaskan kembali dalam kitab yang sama halaman 200: “Adapun puasa pada hari Nishfu Sya’ban tidak dilarang karena pada saat itu termasuk Ayyamul Bidh (hari putih 13,14, 15) yang disunnahkan untuk berpuasa setiap bulan.

Al-Hafidz adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya Tadzkirat al-Huffadz juz 4 hal 1328 dalam biografi al-Hafidz Ibnu Asakir yang mempunyai karangan-karangan yang sangat banyak bahwa putera Ibnu Asakir, al-Muhaddits Bahauddin al-Qasim berkata: “Ayahku (Ibnu Asakir) selalu berjamaah serta membaca al-Quran dan khatam setiap Jum’at dan setiap hari di bulan Ramadhan dan selalu beri’tikaf di menara Asyarqiyah di Damaskus. Beliau selalu memperbanyak sholat sunnah dan dzikir serta menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan malam ‘Ied dengan shalat dan dzikir.”

Imam Ibnu Haj berkata dalam kitabnya al-Madkhal juz 1 halaman 257 dalam mengomentari malam Nishfu Sya’ban kesimpulannya: “Malam Nishfu Sya’ban meskipun bukan malam Lailatul Qodar ia mempunyai keutamaan yang sangat agung dan kebaikan yang sangat banyak. Ulama salaf pun mengagungkannya serta bersungguh-sungguh dalam memasukinya. Dan malam ini (Nishfu Sya’ban) tidak datang kepada mereka kecuali mereka sangat merindukannya serta menghomatinya sebagaimana telah diketahui bahwa mereka adalah orang yang amat mengagungkan syiar-syiar islam. Jadi disunnahkan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam Nishfu Sya’ban dengan cara-cara yang berbeda dari mereka.”

Ibnu Taimiyah (Ia adalah tokoh yang menjadi kebanggaan orang-orang yang mengingkari kegiatan di malam Nishfu Sya’ban) berfatwa dalam kitabnya Majmu’ Fatawa juz 23 halaman 131: “Apabila ada orang shalat di malam Nishfu Sya’ban dengan sendirian atau berjamaah sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin itu merupakan hal yang baik. Adapun keutamaan malam Nishfu Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits dan atsar (perkataan para sahabat dan tabi’in) dan sejumlah dari ulama salaf menghidupkannya dengan shalat. Adapun shalatnya seseorang dengan sendirinya pada malam Nishfu Sya’ban telah didahului (dilakukan) oleh ulama salaf dan dengan hujjah-hujjah (dalil-dalil) maka hal ini tidak boleh diingkari. Adapun sholat berjamaah didasarkan atas qaidah umum anjuran berkumpul dalam melakukan ketaatan dan ibadah.”

Ibnu Taimiyah juga menegaskan dalam kitabnya Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim halaman 266: “Malam Nishfu Sya’ban keutamaannya telah diriwayatkan dari banyak hadits-hadits marfu’ dan atsar (perkataan sahabat dan tabi’in) yang kesimpulannya, malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang diutamakan.”

Dan sebagian ulama salaf ada yang mengkhususkannya dengan melakukan ibadah shalat. Dan berpuasa di bulan Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits yang shahih. Ada sebagian ulama salaf dari penduduk kota Madinah juga sebagian ulama khalaf yang mengingkarinya dan berusaha mencederai hadits-hadits yang menunjukan keutaamannya seperti hadits:

“Sesungguhnya Allah mengampuni di malam Nishfu Sya’ban terhadap dosa yang lebih banyak dari bulu kambingnya Bani Kilb”.

Dan mereka berkata tidak ada perbedaan di antara bulan Sya’ban dan lainnya. Akan tetapi kebanyakan ulama-ulama salaf mengutamakan (menghidupkan) bulan Sya’ban sebagaimana nash yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad karena banyaknya hadits-hadits yang meriwayatkan keutamannya serta perkataan-perkataan dari ulama salaf dan sebagian keutamannya diriwayatkan di kitab musnad-musnad dan sunan-sunan. Meskipun memang ada beberapa riwayat yang lain yang dipalsukan.

Setelah disebutkan sebagian kecil dari ulama-ulama yang menyeru untuk menghidupkan malam Nishfu Sya’ban maka jika ada orang di akhir zaman ini yang dengan lantang berkata bahwa ulama terdahulu tidak pernah menghimbau dan tidak pernah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan ini adalah bid’ah, maka orang tersebut adalah salah satu dari dua.

Pertama, dia adalah orang yang tidak mengetahui para ulama salaf, jika demikian orang tersebut tidak perlu diikuti karena sempitnya wawasan tentang ulama salaf. Dia telah kurang ajar kepada ulama terdahulu.

Kedua, ia mengetahui apa yang telah disebutkan di atas hanya karena kecurangan mereka, maka mereka sembunyikan kebenaran ini karena menuruti hawa nafsunya dan orang ini pun tidak perlu untuk diikuti. Dan bagi kita adalah “Mengikuti ulama-ulama yang menghimbau dan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban.

Cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah dengan memperbanyak amal-amal yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. seperti melakukan shalat sunnah Hajat, Tasbih, Witir atau dengan bershalawat, berdzikir, beristighfar dan membaca al-Quran atau membaca ilmu yang menjadikan kita semakin dekat kepada Allah Swt.

H. Catatan

Amanat bagi siapapun di dalam menyampaikan kebenaran karena ada ancamannya di hadapan Allah Swt. bagi para pengkhianat. Ada sebagian kaum muslimin yang mendustakan semua hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan bulan Sya’ban dan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, sungguh ia telah berdusta kepada Nabi Muhammad Saw.

Dan memang ada beberapa riwayat palsu tentang keutamaan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban. Akan tetapi bagi orang yang takut kepada Allah Swt. haruslah jujur, yang palsu harus dibuang akan tetapi jika ada riwayat telah dianggap benar (shahih) oleh ahli hadits tidak ada bagi kita kecuali menginshafi dan menerimanya.

Bahkan jika seandainya tidak ada riwayat yang benar dan hanya ada yang dha’if hal tersebut oleh para ulama masih bisa digunakan untuk memacu amal baik, dengan syarat-syaratnya. Apalagi sudah terbukti ada sebagian ahli hadits yang menghukumi keshahihannya.

I. Kesimpulan

1. Dari keterangan hadits-hadits tersebut di atas maka telah jelas bahwa Allah mengampuni hamba-hambaNya dengan pengampunan yang khusus di malam Nishfu Sya’ban.

2. Allah Swt. menyeru kepada hamba-hambaNya untuk meminta ampun, meminta rizki, dan agar dijauhkan dari malapetaka dan bencana. Ini semua terjadi di malam Nishfu Sya’ban. Maka sungguh sangat dianjurkan agar kita memperbanyak istighfar dan memohon kepada Allah Swt. dengan berbagai cara sesuai yang disyariatkan oleh Rasulullah Saw.

Wallahu A’lam Bishshawab
 
 https://www.facebook.com/syaroni.assamfury/posts/563856750331905

Tidak ada komentar:

Posting Komentar