Minggu, 30 Juni 2013

DO’A SYAIKH ABDUL QADIR AL-JILANY MENYAMBUT RAMADHAN



Ini adalah Do’a Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA Yang Biasa Dibaca oleh Hadhrotus Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqy RA Untuk Menyambut Bulan Romadhon :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الصِّيَامِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقِيَامِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاِيْمَانِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقُرْأَنِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاَنْوَارِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالْغُفْرَانِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاتِ مِنَ الدَّرَكَاتِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ التَّائِبِيْنَ الْعَابِدِيْنَ. اَلسَّلاََمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْعَارِفِيْنَ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمُجْتَهِدِيْنَ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلأَمَانِ. كُنْتِ لِلْعَاصِيْنَ حَبْسًا وَلِلْمُتَّقِيْنَ اُنْسًا. اَلسَّلاَمُ عَلَى اْلقَنَادِيْلِ وَالْمَصَابِيْحِ الزَّاهِرَةِ. وَالْعُيُوْنِ السَّاهِرَةِ. وَالدُّمُوْعِ الْهَاطِلَةِ. وَالْمَحَارِيْبِ الْمُتَعَطِّرَةِ. وَاْلعَبَرَاتِ الْمُنْسَكِبَةِ الْمُتَفَطِّرَةِ. وَاْلاَنْفَاسِ الصَّاعِدَةِ مِنَ الْقُلُوْبِ الْمُحْتَقِرَةِ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ قَبِلْتَ صِيَامَهُمْ وَصَلاَتَهُمْ وَبَدَّلْتَ سَيِّئاَتِهِ بِحَسَنَاتِهِ. وَاَدْخَلْتَهُ بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِكَ. وَرَفَعْتَ دَرَجَاتِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.

“Salam bagimu wahai bulan Romadhon. Salam bagimu wahai bulan qiyam (bulan untuk mendirikan sholat tarawih). Salam bagimu wahai bulan iman. Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an. Salam bagimu wahai bulan yang penuh cahaya. Salam bagimu wahai bulan yang penuh ampunan. Salam bagimu wahai bulan (untuk menaikkan) derajat dan keselamatan dari derajat yang rendah. Salam bagimu wahai bulan bagi orang-orang yang bertaubat dan ahli ibadah. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang ma’rifat. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang bersungguh-sungguh. Salam bagimu wahai bulan yang aman. Engkau adalah penjara bagi orang-orang yang melakukan maksiat dan kesenangan bagi orang-orang yang bertakwa. Salam bagi pelita yang bersinar, mata-mata yang terjaga, airmata yang terus menetes, mihrab-mihrab yang semerbak mewangi, airmata yang tumpah, dan nafas-nafas yang naik dari hati yang hina. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau terima puasa dan sholatnya, yang Engkau ganti kejelekannya dengan kebaikan, yang Engkau masukkan ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu, dan yang Engkau angkat derajatnya dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Asih.”

*Doa ini biasa dibaca hadhrotus Syaikh pada malam tanggal 1 Romadhon ba’da maghrib, dengan model talqin (Beliau membaca beberapa kalimat, lalu ditirukan oleh jamaah)

Dinukil dari Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq karya Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA.

BEBERAPA PERMASALAH SEPUTAR PUASA RAMADHAN


a. Dalil Shalat Cepat
b. Ketentuan Fidyah Bagi Orang Sakit
c. Maksud Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan
d. Menggabungkan Niat Puasa
e. Membatalkan Puasa saat Ramadhan, Kemudian Berjima’
f. Ketentuan Kafarat Bagi yang Jima’ di Bulan Ramadhan
g. Mencicipi Makanan Saat Berpuasa

a. Dalil Shalat Cepat

Telah menjadi hal yang umum manakala bulan Ramadhan tiba, di setiap masjid atau musholla diadakan sholat sunnah Tarawih secara berjamaah, baik yang berjumlah 8 maupun 20 rakaat. Namun biasanya yang 20 rakaat dilakukan secara cepat atau lebih cepat daripada yang hanya 8 rakaat. Adakah dasarnya melakukan shalat secara cepat?

Dalil diperbolehkannya shalat sunnah cepat adalah didasari dari berbagai macam hadits berikut ini:

“Bahwa Ummu Hani Ra. melihat Nabi Saw. melakukan shalat Dhuha, beliau Saw. mandi di hari Fathu Makkah (saat itu) lalu shalat 8 rakaat, dan tidak pernah kulihat Rasul Saw. shalat secepat itu, namun beliau menyempurnakan rukuk dan sujud.” (Shahih Bukhari Bab al-Jum’at dan Bab al-Maghaziy).

Dari Hafshah Ra.: “Sungguh Rasul Saw. menanti muadzin untuk Shubuh, dan melakukan shalat Qabliyah Shubuh dengan ringan (cepat) sebelum shalat Shubuh.” (Shahih al-Bukhari Bab Adzan).

Dari Aisyah Ra. berkata: “Rasul Saw. sangat cepat melakukan shalat Qabliyah Shubuh, hingga aku berkata dalam hati apakah beliau Saw. membaca al-Fatihah atau tidak.” (Shahih Bukhari Bab al-Jum’at).

Hadits di atas dari Aisyah Ra. yg menyaksikan shalat Nabi Saw. sedemikian seakan tidak membaca al-Fatihah. Teriwayatkan pula pada Shahih Muslim pada Bab Shalatul Musafirin wa Qashriha, teriwayatkan dua hadits yang sama pada bab yang sama.

Jelas sudah diperbolehkannya shalat sunnah dengan cepat, demikian teriwayatkan pula pada Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam oleh Ibn Rajab bahwa diantara ulama salaf melakukan shalat sunnah 1000 rakaat. (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam hadits no. 2 dan no. 50).

Bagaimana seorang melakukan shalat 1000 rakaat, terkecuali ia melakukannya dengan cepat. Jelas sudah diperbolehkannya shalat sunnah dengan cepat, namun yang dimaksud menyempurnakan rukuk dan sujud adalah tuma’ninah. Kadar tuma’ninah adalah sekadar seorang membaca satu kali “Subhanallah” (kurang dari 1 detik). Maka jika seorang melakukan shalat, pada i’tidal, rukuk, duduk, dan sujud ia harus berdiam segenap tubuhnya sekadar minimal kadar di atas, jika kurang dari itu maka tidak sah shalatnya.

Sebagaimana beberapa hadits shahih bahwa Rasul Saw. menegur orang yang shalat cepat dan mengatakan kamu belum shalat, karena ia terus bergerak tanpa berhenti sekadar tuma’ninah.

b. Ketentuan Fidyah Bagi Orang Sakit

Semisal ada orang yang sakit terus menerus yang dimungkinkan tidak sembuh lagi, namun setelah 20 tahun kemudian ternyata ia sembuh dan kuat berpuasa. Selama sakitnya ia membayar fidyah, apakah tetap harus mengqadhai puasa yang telah diganti fidyah tersebut?

Kalangan Syafi’iyah berpendapat bahwa bila pengakhiran qadha puasa tersebut sebab adanya ‘udzur yang istimrar (terus menerus), baginya cukup mengqadha puasa itu tanpa menyertakan membayar fidyah. Barangsiapa yang mengakhirkan qadha puasa Ramadhan, padahal memiliki kesempatan untuk mengqadhanya, hingga memasuki Ramadhan yang lain (Ramadhan berikutnya) wajib baginya di setip hari yang pernah ia tinggalkan satu mud (6,5 ons) karena enam shahabat nabi menyatakan masalah ini dan tidak ada perbedaan di antara mereka, dan ia berdosa sebab mengakhirkannya.

Imam an-Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’: “Dan wajib baginya satu mud sebab mengakhirkannya hingga masuk Ramadhan berikutnya. Sedang bagi yang tidak berkesempatan mengqadhainya karena udzurnya yang terus berlangsung hingga memasuki Ramadhan berikutnya maka tidak berkewajiban membayar fidyah (sehari satu mud) sebab pengakhiran qadhanya.” (Al-Iqna’ li asy-Syarbiniy juz 1 halaman 243).

Sedangkan pendapat yang menyatakan tidak perlu mengqadhainya lagi adalah pendapat Ibn Abbas, Ibn Umar, Sa’id bin Jubir dan Qatadah: “Puasa yang ada dijalani, puasa yang telah lewat fidyahnya dibayari dan tidak ada qadha puasa lagi.” (Al-Majmu’ ‘ala Syarh al-Muhaddzab juz 4 halaman 366).

c. Maksud Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan

Di bulan Ramadhan benarkah para setan dibelenggu, melihat faktanya sewaktu berpuasa masih saja ada yang berpacaran dan maksiat lainnya masih tetap terjadi?

Hal itu terjadi karena masih dimungkinkan kejelekan tersebut terjadi akibat nafsu yang jelek dari seseorang atau pengaruh setan dari bangsa manusia.

Berkata Imam al-Qurthubiy setelah mengunggulkan pernyataan hadits “Pada bulan Ramadhan pintu neraka ditutup rapat dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan setan diborgol” pada dzahirnya hadits, bila ditanyakan “Bagaimana kita masih banyak melihat kejelekan dan maksiat terjadi di bulan Ramadhan bila memang setan telah diborgol?” Kejelekan tersebut menjadi jarang terjadi pada orang yang berpuasa dengan menjalankan semua syarat-syaratnya dan menjaga adab-adabnya. Atau yang diborgol hanyalah sebagian setan tidak semuanya seperti keterangan di sebagian riwayat terdahulu. Atau yang dimaksud adalah sedikitnya kejelekan di bulan Ramadhan, ini adalah hal nyata karena kejelekan di bulan Ramadhan kenyataannya memang lebih sedikit dibanding di bulan-bulan lainnya dan bukan berarti apabila semua setan diborgol di bulan Ramadhan sekalipun, tidak akan terjadi kejelekan dan kemaksiatan karena masih dimungkinkan kejelekan tersebut terjadi disebabkan oleh nafsu yang jelek atau setan dari sebangsa manusia.”

Dan berkata ulama lainnya: “Pengertian setan dibelenggu di bulan Ramadhan adalah tidak adanya lagi alasan seorang mukallaf, seolah-olah dikatakan: “Telah tercegah setan dari menggodamu maka jangan beralasan dirimu karenanya (godaan setan) saat meninggalkan ketaatan dan menjalani kemaksiatan.” (Fath al-Bari juz 4 halaman 114-115).

d. Menggabungkan Niat Puasa

Menggabung niat beberapa puasa sunnah seperti puasa ‘Arafah dan puasa Senin Kamis adalah boleh dan dinyatakan mendapatkan pahala keduanya. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam al-Kurdi. Bahkan menurut Imam al-Barizi puasa sunnah seperti hari ‘Asyura, jika diniati puasa lain seperti qadha Ramadhan tanpa meniatkan pauasa ‘Asyura tetap mendapatkan pahala keduanya.

Adapun puasa 6 hari bulan Syawal jika digabung dengan qadha Ramadhan, maka menurut Imam Romli mendapatkan pahala keduanya. Sedangkan menurut Abu Makhromah tidak mendapatkan pahala keduanya bahkan tidak sah. (I’anat ath-Thalibin juz 2 halaman 252, Fath al-Wahab juz 1 halaman 206, Bughyat al-Mustarsyidin halaman 113-114 dan al-Fawaid al-Janiyyah juz halaman 145).

e. Membatalkan Puasa saat Ramadhan, Kemudian Berjima’

Suami istri dalam keadaan musafir, lalu mengambil rukhshah untuk tidak berpuasa (membatalkan puasanya). Setelah itu keduanya melakukan jima’, bagaimana hukumnya?

Baginya tidak wajib kafarat, bahkan bila tadinya ia berpuasa kemudian di tengah jalan dibatalkan dengan jima’ maka tidak wajib kafarat menurut Imam Syafi’i karena berbuka puasa saat musafir baginya mubah. (Syarh al-Minhaj juz 2 halaman 345, Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah juz 1 halaman 903 dan Ikhtilaf al-Ummah juz 1 halaman 250).

Namun menurut Imam Malik dan Imam Hanafi wajib kafarat, sedangkan menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanbali tidak wajib. (Syarh al-Minhaj juz 2 halaman 345, al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh juz 3 halaman 97 dan al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah juz 28 halaman 44).

f. Ketentuan Kafarat Bagi yang Jima’ di Bulan Ramadhan

Terdapat tiga pendapat dalam masalah kafarat (denda pelanggaran) sebab persenggamaan atau jima’ di siang bulang Ramadhan:

1. Kewajiban kafaratnya khusus bagi suami (pendapat paling shahih).

2. Kewajiban kafaratnya bagi suami dan istri (satu kafarat untuk mereka berdua).

3. Masing-masing suami istri wajib mengeluarkan kafarat. Pendapat paling shahih adalah yang menyatakan kewajiban kafarat khusus bagi suami sebagai denda buatnya sendiri, dan untuk istri tidak diwajibkan sesuatupun (kecuali qadha).

4. Kewajibannya bagi suami hanya saja dia wajib mengeluarkan dua kafarat dari hartanya, satu kafarat untuk dirinya dan satu kafarat untuk istrinya (ini pendapat ad-Darami dan lainnya). (Al-Majmu’ ‘ala Syarh al-Muhadzdzab juz 6 halaman 331-332).

g. Mencicipi Makanan Saat Berpuasa

Dimakruhkan mencicipi makanan (bagi orang yang puasa) tersebut bila memang untuk orang yang tidak ada kepentingan. Sedangkan bagi seorang pemasak makanan baik laki-laki atau perempuan atau orang yang memiliki anak kecil yang mengunyahkan makanan buatnya maka tidak dimakruhkan mencicipi makanan buat mereka seperti apa yang difatwakan Imam az-Ziyadi. (Asy-Syarqawiy juz 1 halaman 445).

Wallahu A’lam

Senin, 24 Juni 2013

BEKAL MENYAMBUT BULAN SYA’BAN



Tak terasa bulan mulia Rajab hampir meninggalkan kita, maka sebentar lagi kita memasuki bulan Sya’ban, bulannya Rasulullah Saw. Sebagai bekal menyambut kedatangan bulan Sya’ban yang mulia, tentunya akan menjadi lebih mulia manakala kita isi dengan kegiatan yang mulia pula. Tidaklah usah menanggapi cibiran segelintir orang yang mempermasalahkan perihal amalan-amalan di bulan Sya’ban. Selamat dipelajari, diamalkan dan dicopas atau dishare ke semua teman. Semoga bermanfaat, Aamiin.

BEKAL MENYAMBUT MALAM NISHFU SYA’BAN


Daftar Isi:

a. Peristiwa dan Keistimewaan Bulan Sya’ban
b. Malam Nishfu Sya’ban
c. Hadits-hadits Tentang Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
d. Perkataan Para Ulama Tentang Malam Nishfu Sya’ban
e. Doa Malam Nishfu Sya’ban

Sya'ban terdiri dari 5 huruf (dalam kitabnya AL GHUN-YAH hlm, 188)

Syaikh Abdul Qodir Al Jilaniy Al Hasani berkata dalam kitabnya AL GHUN-YAH hlm, 188:

(فصل)
شعبان خمسة أحرف, شين وعين وباء وألف ونون

فالشين من الشرف
والعين من العلو
والباء من البر
والألف من الألفة
والنون من النور

فهذه العطايا من الله تعالى للعبد فى هذا الشهر
وهو شهر تفتح فيه الخيرة
وتنزل فيه البركات
وتترك فيه الخطيئات
وتكفر فيه السيئات
وتكثر فيه الصلوات على محمد صلى الله عليه وسلم خير البريات

(FASAL)

Sya'ban terdiri dari 5 huruf, yaitu (syin) ('ain) (ba') (alif) (nun)

Huruf (syin) adalah berasal dari kata (syarof) yaitu KEMULIAAN
Huruf ('ain) adalah berasal dari kata ('uluw) yaitu LUHUR
Huruf (ba') adalah berasal dari kata (birri) yaitu KEBAJIKAN
Huruf (alif) adalah berasal dari kata (ulfah) yaitu KASIH SAYANG
Huruf (nun) adalah berasal dari kata (nur) yaitu CAHAYA

Ini semua adalah anugerah dari Allah untuk hamba-Nya di bulan ini.
Ia adalah bulan dibuka nya segala kebaikan, turunnya keberkahan, meninggalkan dosa dosa, melebur dosa dosa dan memperbanyak sholawat kepada baginda Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa sallam

لأن الأيام ثلاثة

أمس وهو أجل
واليوم وهو عمل
وغدا وهو أمل
فلاتدرى هل تبلغه أم لا

Karena hari hari itu ada 3

HARI KEMARIN, ia adalah tiada telah berlalu
HARI INI, ia adalah waktunya berbuat
HARI BESOK, ia adalah angan angan, engkau tidak tahu bisa sampai besok atau tidak.

فأمس موعظة
واليوم غنيمة
وغدا مخاطرة

HARI KEMARIN adalah nasehat
HARI INI adalah rampasan perang
HARI BESOK adalah menghawatirkan

وكذلك الشهور ثلاثة
رجب فقد مضى وذهب فلا يعود
ورمضان وهو منتظر لاندرى هل تعيش الى ادراكه ام لا
وشعبان وهو واسطة بين شهرين فليغتنم الطاعة فيه

Begitu juga bulan ada 3
Bulan Rojab adalah telah berlalu pergi dan tak kembali
Dan bulan Ramadhan masih dalam penantian. Kita tidak tahu apakah engkau masih hidup menjumpainya atau tidak?
Dan bulan Sya'ban adalah bulan ditengah antara dua bulan tsb, oleh sebab itu gunakanlah kesempatanmu untuk berbuat TAAT KEPADA ALLAH di dalamnya....

Bersambung.....
Sumber : https://www.facebook.com/baba.naheel/posts/539845556077856?ref=notif&notif_t=close_friend_activity

Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban Menurut al-Madzahib al-Arba’ah

Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban Menurut al-Madzahib al-Arba’ah

Menanggapi tudingan beberapa oknum orang yang menyatakan bahwa menghidupkan malam nisfu sya’ban sebagai perbuatan bid’ah, maka kami tergerak untuk mencoba memberikan jawaban dengan menukil penjelasan dari ulama-ulama dalam lingkup madzhab empat(al-Madzahib al-Arba’ah) mengenai hal tersebut.

Kenapa kok al-Madzahib al-Arba’ah?? Karena sebagaimana yang telah disepakati ulama,keempat madzhab itulah yang sampai saat ini bisa dipertanggung jawabkan silsilah keilmuannya dan juga sudah banyak dibukukannya ajaran-ajaran mereka oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka (Mudawwan/terkodifikasi).
Tidak berpanjanglebar, berikut kami nukilkan pandangan-pandangan ulama al-Madzahib al-Arba’ah mengenai hal ini.

Ulama Madzhab Hanafiyyah

Ibnu Najim didalam kitab al-Bahr ar-Raiq 2/56 menyampaikan:

ومن المندوبات إحياء ليالي العشر من رمضان وليلتي العيدين وليالي عشر ذي الحجةوليلة النصف من شعبان كما وردت به الأحاديث وذكرها في الترغيب والترهيب مفصلة . والمراد بإحياء الليل قيامهوظاهره الاستيعاب ويجوز أن يراد غالبه .
ويكره الاجتماع على إحياء ليلة من هذه الليالي في المساجد قال في الحاوي القدسيولا يصلي تطوع بجماعة غير التراويح وما روي من الصلوات في الأوقات الشريفة كليلة القدروليلة النصف من شعبان وليلتي العيد وعرفة والجمعة وغيرها تصلى فرادى انتهى. اه

Di dalam ibaroh di atas, Ibnu Najim menyampaikan tentang kesunahan2 menghidupkan sepuluh malam di bulam romadlon, dua malam hari raya (‘ied dan idhul adlha),sepuluh malam dzilhijjah, malam nisfu sya’ban sebagaimana yang telah disampaikan dalam banyak hadits dan disebutkan di dalam at-Targhib wa at-Tarhib secara terperinci. Yang dimaksudkan dngn menghidupkan malam adalah dengan qiyamullail.
Qiyamul lail tsb sunnahnya adalah dilakukan sendiri2, dan makruh apabila dilakukan dengan berjamaah.

Jumat, 21 Juni 2013

MALAM NISFU SYA'BAN


عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها إلى سماء الدنيا فيقول : ألا من مستغفر فأغفر له ، ألا من مسترزق فأرزقه ألا من مبتلى فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر. رواه ابن ماجه

Artinya
=====

“Dari Ali, semoga Allah meridhoi beliau !, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Apabila telah tiba malam Nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan mengerjakan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah berfirman: "Orang yang meminta ampunan kepadaku, maka akan Aku ampuni dia, orang yang meminta rizqi kepadaku, maka akan Aku berikan dia rizqi, orang yang mendapatkan cobaan, maka aku bebaskan dia dari cobaan itu, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah). {Keterangan dari kitab “At-Tajul Jami’ lil Ushul”, karya Syeikh Manshur Ali Nashif, jilid 2 halam 93 dan lihat pula di kitab "Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami' at-Tirmidzi" pada jilid 3 halaman 439-440, cetakan "Darul Fikr", Libanon Beirut

عن عائشة رضي الله عنها قالت : فقدت النبي صلى الله عليه و سلم ذات ليلة , فخرجت أطلبه , فاذا هو بالبقيع رافع رأسه الى السماء فقال : يا عائشة أكنت تخافين أن يحيف الله عليك و رسوله قلت : ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال : أن الله تعالى ينزل ليلة النصف من شغبان الى سماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شغر غنم كلب . رواه ابن ماجه و البرمذي و أحمد